FKUB Tolak Pembangunan Rumah Ibadat Saksi Yehuwa

0
1189
Rapat Koordinasi FKUB di Sekretariat Pemkot Tarakan Menolak Pembangunan Rumah Ibadah Berjiwa (run)
Rapat Koordinasi FKUB di Sekretariat Pemkot Tarakan Menolak Pembangunan Rumah Ibadah Berjiwa (run)
Rapat Koordinasi FKUB di Sekretariat Pemkot Tarakan Menolak Pembangunan Rumah Ibadat Yehuwa (run)

MBNews, Tarakan – Keinginan kelompok saksi yehuwa untuk mendirikan rumah ibadat di daerah pasir putih, diitentang Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, penolakan pembangunan rumah ibadat tersebut dikarenakan kelompok saksi yehuwa tidak masuk sebagai salah satu agama yang diakui oleh Negara Indonesia. Hal itu terungkap saat rapat koordinasi tentang pembangunan rumah ibadat yehuwa yang digelar diruang kenawai Kantor Walikota Tarakan, Kamis (11/12/2014) yang dihadiri langsung Pemerintah kota dalam hal ini dihadiri oleh Asisten 3 Bidang Kesejahteraan Rakyat Dra.Maryam,M.Si, Kementrian Agama (kemenag), Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol), FKUB serta perwakilan Saksi Yehuwa.

Seketaris FKUB Tarakan Syamsi Sarman usai rapat kordinasi mengatakan, seluruh pemuka agama yang tergabung didalam FKUB telah bersepakat untuk tidak mengeluarkan rekomendasi pembangunan rumah ibadat Yehuwa dengan alasan  sesuai Surat Keputusan Mentri Agama Nomor 70 tahun 1978 Tentang Pedoman Penyiaran Agama.

“Mengacu kepada SK Mentri Agama Nomor 70 Tahun 1978 ada 4 poin yang tidak boleh dilakukan yakni menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama, menggunakan bujukan dalam bentuk matri seperti uang, bahan bahan makanan serta lainnya untuk mengajak orang mengikuti pemahamannya,menyebarkan famplet kepada orang yang berbeda agama, serta memasuki atau keluar masuk kerumah orang yang beda agama untuk menyebarkan agamanya dan Saksi yehuwa ini dalam prakteknya kami temukan melanggar 4 poin tersebut.” Tegas Syamsi Sarman.

Ditambahkan, dalam menolak pembangunan rumah Ibadat Saksi Yehuwa, FKUB juga mengacu kepada Surat Peraturan Bersama Mentri Agama dan Mentri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama,Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat khususnya pasal 13 ayat 2 pendirian rumah ibadat harus tetap menjaga kerukunan umat beragama ,tidak  menganggu ketentraman dan ketertiban umum serta mematuhi peraturan perundang-undangan.

“Bukan hanya umat islam yang merasakannya umat nasrani juga merasakan hal yang sama, tadi didalam rapat kordinasi yang dihadiri langsung perwakilan saksi yahuwa,  pastur Domi dari Gereja Katholik  mengatakan rumahnya didatangi oleh saksi yehuwa bahkan disuruh menurunkan salib, Itukan tidak dibenarkan sebab mengganggu keyakinan orang.” Ucapnya.

Sementara itu, Pastor Dominikus Pareta Perwakilan Katholik mengungkapkan gereja katholik tidak mengakui saksi yehowa hal ini dikarenakan teologi yang diajarkan saksi yehowa bertentangan dengan ajaran kristen secara umum.

“Dengan tegas gereja Katholik tidak mengakui saksi Yehowa bagian dari kristen atau katholik, sebab dari segi praktek kegiatan saksi yehowa meresahkan orang karena mencari pengikut yang sudah memiliki keyakinan.” Jelas Pastor Domi

Bahkan Pendeta Joko Susanto,MA selaku perwakilan Protestan juga dengan tegas tidak mengakui saksi yehowa sebagai bagian dari Nasrani, oleh karenanya persoalan pembangunan rumah Ibadat yang diinginkan kelompok saksi Yehowa diserahkan kepada pemerintah daerah.

Dilain Sisi Fongky Ketua Pengurus Saksi Yehuwa Tarakan menjelaskan, Saksi Yehuwa tetap berpegang teguh kepada aturan hukum yakni setiap warga negara berhak memeluk agama dan keyakinannya masing-masing, Bahkan didaerah lain rumah ibadat Yehuwa sudah banyak yang berdiri tanpa harus dihalangi.

“Didaerah lain kami tidak dilarang membangun rumah ibadat di manado, Samarinda, Bontang, Jakarta, bahkan didaerah lainnya dan dibeberapa kampus kami diterima, bisa beribadah dengan tenang dan aman.” Ujarnya

Fongky menyayangkan, Jika alasan saksi yehuwa dilarang membangung rumah ibadat dengan alasan bukan bagian dari agama nasrani tentu hal itu tidak benar, karena saksi yehuwa terdaftar di Bimas Kristen yang ada dikementrian agama

“Kami akan datangkan pengurus saksi yehuwa dari pusat untuk mengurus pembangunan rumah ibadat yang tidak disetujui FKUB, Tidak ada alasan untuk melarang kami membangun rumah ibadat, jangan dipersoalkan masalah doktrinnya dan renana pembangunan rumah Ibadat Yehuwa didaerah pasir putih.” Tuntas Fongky.

Selaku Asisten 3 bidang Kesejahteraan Masyarakat, Dra.Maryam,M.Si belum bisa memutuskan apakah pembangunan rumah Ibadat Yehuwa dilarang atau tidak, sebab masih harus melakukan pertemuan sekali lagi yang menurut renana dihadiri langsung oleh Walikota Tarakan Ir.Sofian Raga,M.Si.

Untuk diketahui, berdasarkan informasi yang disadur dari wikipedia.orgi Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian, restorasionis yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab hingga pada tahun 1931. Agama ini diorganisasi secara internasional, lebih dikenal di dunia Barat sebagai Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen, yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus. Saksi-Saksi Yehuwa sendiri bukanlah suatu sekte, mereka tidak pernah memisahkan diri dari gereja atau kelompok besar manapun. Wewenang tertinggi kehidupan mereka berdasarkan hukum-hukum dan prinsip-prinsip dari Kitab Suci atau Alkitab. Mereka menolak doktrin Tri Tunggal karena tidak berdasarkan Firman Allah, Alkitab. (run)