Gafatar Kaltara Tegaskan Tidak Terkait Dengan Al Qiyadah Al Islamiyah

0
772
Sekda DPD Gafatar Kaltara M.Noor (berkacamata), dan Danang Nurdiansyah selaku Binfokom DPD Gafatar Kaltara (run)
Sekda DPD Gafatar Kaltara M.Noor (berkacamata), dan Danang Nurdiansyah selaku Binfokom DPD Gafatar Kaltara (run)
Sekda DPD Gafatar Kaltara M.Noor (berkacamata), dan Danang Nurdiansyah selaku Binfokom DPD Gafatar Kaltara (run)

MBNews, Tarakan – Sebagai Organisasi Ke-Masyarakat (ormas), nama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) saat ini menjadi hangat sebagai bahan pembicaraan, karena adanya kabar bahwa Ormas yang selalu mendengan dengungkan Pancasila ini, masuk kategori sebagai ormas yang “diwaspadai”, sebab diduga Gafatar masih memiliki benang merah dengan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang pernah dideklarasikan oleh Ahmad Musadeq kemudian bertamorfosis menjadi aliran Milah Abraham.

Menyikapi hal tersebut, Seketaris Daerah (Sekda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gafatar Provinsi Kalimantan Utara M.Noor,S.Sn menegaskan, Gafatar bukan ormas yang bergerak dibidang keagamaan, selama ini gerakan gafatar lebih kepada penanaman nilai nilai pancasila serta sosial budaya, sehingga menurut M.Noor sungguh naif jika Gafatar harus disangkut pautkan dengan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang sempat populer pada tahun 2007 silam.

“Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) didirikan bukan atas dasar kepentingan kelompok, golongan, aliran, suku, agama, kepercayaan atau ras manapun, sehingga murni gerakan kita bukan atas nama Agama.” Jelas M.Noor, menyikapi masuknya nama Gafatar oleh Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Tarakan sebagai ormas yang patut di ”waspadai”, Rabu (11/03/2015).

M.Noor yang didampingi oleh Danang Nurdiansyah,S.Kom selaku Binfokom DPD Gafatar Kaltara mengungkapkan, bahwa kelompok ormas yang khas dengan baju orange dan lambang Matahari terbit ini tidak menutupi bahwa sebagian pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gafatar mantan pengikut Ahmad Musadeq, namun hal tersebut merupakan masa lalu dari pengurus yang bersangkutan, sebab Ahmad Musadeq dan pengikutnya yang saat ini jadi pengurus DPP Gafatar sudah bertobat serta menjalini hukuman sesuai dengan hukum yang ada di Indonesia.

“Gafatar sendiri berdiri tahun 2011, sedangkan Al Qiyadah Al Islamiyah yang dipimpin Ahmad Musadeq dibubarkan pada tahun 2007, sehingga tidak ada hubung kait dengan Gafatar secara organisasi.” Ungkapnya.

Lanjut M.Noor, keberadaan Gafatar sendiri telah diakui oleh Negara, hal ini tercermin dari pendirian Gafatar yang terdaftar di Kementrian Hukum dan Ham Asasi Manusia RI lewat Akte Notaris H.Warman,SH., Nomor : 01 tertanggal 5 Septermber 2011, sehingga sungguh disayangkan jika Gafara tidak diakui bahkan selalu dikaitkan dengan Milah Abraham atau Al Qiyadah Al Islamiyah.

“Gafatar memiliki landasan hukum sebab ada Akta notaris, bahkan Gafatar sendiri merupakan ormas terbuka yang artinya semua orang bisa masuk dan bergabung, selama mau menjunjung tinggi Pancasila, Undang undang Dasar 1945 serta mematuhi Anggaran Dasar/Rumah Tangga Gafatar.” Beber M.Noor.

Ketika ditanya bagaimana dengan adanya pengawasan dan pemantauan dari pihak pemerintah terhadap Gafatar ?, dengan lugas M.Noor memastikan hal tersebut tidak menjadi persoalan, sebab pemerintah memiliki hak untuk memantau dan mengawasi sebuah ormas.

“Jikapun Gafatar dipantau dan diawasi, hal itu bukan masalah sebab Gafatar bukan Ormas terlarang, hal itu mengacu kepada Surat dari Kementrian Dalam Negeri RI Nomor 220/0110/Kesbangpol yang dikeluarkan pada 16 Januari 2015.”Ujarnya.

Untuk menjernihkan persoalan Gafatar yang dikaitkan dengan Al Qiyadah Al Islamiyah, M.Noor menyatakan sikap, bahwa Gafatar Tarakan maupun Gafatar Kaltara siap berdialog dengan Kesbangpolinmas Tarakan maupun masyarakat pada umumnya, untuk memaparkan secara terbuka visi-misi maupun Ideologi Gafatar.

“Kita siap berdialog dan berdiskusi dengan siapapun tentang Gafatar.” Tuntas M.Noor.

Diberitakan sebelumnya, Kesbangpolinmas Tarakan mendeteksi adannya gerakan yang “dilarang” yang sudah terdeteksi masuk ke Tarakan yakni, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebuah gerakan jihadis yang saat ini meresakan dunia. Dari deteksi dini yang dilakukan, disinyalir ada sekitar 10 orang anggota ISIS menetap di Tarakan.

Selain ISIS, ada Ormas Gafatar yang disinyalir masih memiliki benang merah dengan Ahmad Musadeq mantan pimpinan aliran Al-qiyadah Al Islamiyah, Ormas Gafatar sendiri berdasarkan pantauan Kesbangpolinmas Tarakan memiliki anggota kurang lebih 40 orang.

Serta kelompok saksi Yehuwa, yang keberadaannya beberapa waktu lalu sempat meresahkan sebagian masyarakat, karena menyebarkan buku maupun famplet yang bersikan sebuah ajaran keyakinan, dimana kelompok saksi yehuwa ini keberadaannya tidak diterima oleh tokoh umat beragama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, adapun anggota saksi Yehuwa disilarir kurang lebih 70 orang. (run)