Pengajian Menggunakan Kaset Penyebab Polusi Udara

0
480
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

MBNews – Maraknya masjid yang memutar kaset pengajian mendapatkan kritik dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), bahkan orang nomor dua di Pemerintahan Indonesia ini meminta agar MUI mengeluarkan Fatwa larangan memutar pengajian dengan kaset, menurut JK rekaman pengajian seperti itu berpotensi menimbulkan “polusi suara” dan dinilai juga tak mampu memberikan pahala pada individu yang mengaji.

“Berhentikan itu, apa urusannya Anda mengaji pakai kaset, tidak ada pahalanya itu. Kalau ada pahalanya, itu orang Jepang yang dapat karena itu pasti pakai Sony,” kata Jusuf Kalla, Selasa (9/6).

JK, yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengatakan pemutaran rekaman mengaji lewat kaset tidak efektif dan efisien serta malahan mengganggu ketenangan masyarakat sekitar. Ditambah lagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam membuat banyaknya masjid dalam jarak dekat dan juga membuat tumpang tindih suara di antara masjid tersebut.

“Ini pengalaman saya kemarin jam empat pagi saya sudah dibangunkan empat masjid dan dihajar pengajian kaset,” kata mantan Ketua Umum Partai Golkar ini.

Mengacu pada cerita JK di kampung halamannya, Makassar, JK mengaku tidak bisa mendengar dengan baik isi rekaman pengajian yang dilantunkan oleh tiap masjid. JK menilai hal tersebut menimbulkan potensi polusi suara yang bisa membuat pihak masjid selaku penyetel pengajian kaset mengganggu waktu istirahat khalayak ramai.

“Kita jengah dan dia berdosa mengganggu kita,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, JK membuat rumusan selaku Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) agar tidak memperbolehkan mengaji lewat rekaman.

JK mengatakan metode mengaji lewat kaset itu memang praktis dan memudahkan tugas marbot masjid namun tidak sesuai dengan tujuan dan harapan umat Islam yang mendengarkan pengajian. Dalam pidatonya JK juga meminta ada sebuah fatwa khusus MUI yang mampu membentuk satu koridor jelas soal rekaman pengajian itu.

JK TAK ANTI-MODERNITAS

Dewan Masjid Indonesia menyatakan modernitas di masjid perlu ada pengaturan. Sebab, upaya tersebut demi kemaslahatan umat Islam.

“Ini yang perlu dikompromikan oleh umat Islam. Jadi intensitas masjid itu bukan dimaksudkan dikurangi tetapi mengurangi tingkat kebisingan dengan pengaturan menguragi perangkat kaset,”kata Sekjen DMI Imam Daruqthi.

Imam menjelaskan, upaya tersebut bertujuan untuk kemalahatan umat sehingga pada intinya tidak bermaksud mengurangi intensitas masjid yang berjalan. Menurutnya, Ketua DMI yang juga Wakil Presiden RI itu mengusulkan waktu yang dipakai dalam penggunaan kaset tersebut tidak terlalu lama.

“Tapi lebih baiknya Pak JK mengusulkan bukan kaset yang melakukan masyarakat langsung. Sebab, selama ini yang berjalan ketika kaset disetel yang menyetel tidur,”ujar Imam.

Imam menambahkan, pernyataan JK tidak berarti anti terhadap modernitas yang berjalan. Hanya saja, di era modern perkembang masjid akan terkena pengaruh oleh dampak persoalan moderen. Sebab, menurutnya, didalam kebudayaan modern terdapat nilai tingkat kesibukannya sangat luar biasa.

“Karena JK perlu istirahat yang cukup. Tetapi kemudian ketika dia istirahat itu malah dibangunkan oleh kemodernan yang ada dimasjid juga,”ujarnya.

Di tengah majunya perkembangan moderenitas dunia perlu ada pengaturan. Namun, Imam menegaskan, DMI bukan lah lembaga yang dapat mengatur hal demikian. Sehingga, DMI menghimbau kepada umat Islam bahwa hal itu merupakan persoalan bersama.

“Karena itu kirannya Komisi Fatwa MUI membahas persoalan itu sebagai persoalan serius sehingga nanti bisa diberika tausiah kepada masyarat agar pelaksanaan penggunaan pengereas suara dengan kaset itu dikurangi dan lebih baik langsung oleh orang,”kata Imam.

MAAFKAN MASJID JIKA SUARA MENGAJI MENGGANGGU

Menyikapi pernyataan JK tersebut, ustaz Yusuf Mansyur yang mengatas namankan masjid dan surau meminta maaf jika suara mengaji yang diperdengarkan dari rumah ibadah tersebut dianggap mengganggu.

“Maafkan masjid-masjid… Maafkan surau-surau… Maafkan langgar-langgar… Jika suara-suara kaset, atau suara-suara asli, terasa mengganggu,” tulis Yusuf Mansyur melalaui akun Twitter-nya.

lebih lanjut, pemilik pesantren Daarul Quran itu berpesan agar setiap orang memuliakan Alquran. Orang yang memuliakan Alquran sama juga memuliakan Allah.

“Bila Alquran diperdengarkan, maka ada satu saja yang berubah, yang termotivasi, maka pahalanya untuk yang memperdengarkan Alquran itu,” ujarnya.

MUI BELUM BISA MENJAWAB SOAL KASET PENGAJIAN

Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum bisa menjawab apakah mengaji dengan bantuan kaset bisa mendapat pahala. Akan tetapi MUI akan respon permintaan fatwa baru dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla. MUI takut di hari mendatang permasalahan polusi suara akan menjadi biang konflik di masyarakat.

“Kita harus bahas, jangan sampai jadi sumber konflik. Ya memang ada yang nyaman ada yang tidak nyaman. Yang nyaman mungkin yang merasa senang kalau mendengar suara AlQuran. Ada yang merasa terganggu, ada yang tidak,” kata Wakil Ketua Umum dan Ketua Bidang Fatwa MUI, KH Maaruf Amin.

Di sisi lain pembuatan fatwa memang bisa dipercepat, akan tetapi menjadwalkan pembahasan tidak bisa dalam waktu dekat. Pasalnya saat ini agenda MUI masih padat.

“Ini kan baru muncul tadi. Fatwa tidak bisa mendadak, harus lewat kajian dan mencari dasar hukumnya dulu. Nanti kita akan bahas tapi tidak sekarang,” tuturnya.

JK meminta kepada MUI agar segera diberikan fatwa terkait pahala mengaji menggunakan kaset. Permintaan tersebut dia sampaikan dalam acara pembukaan Fatwa MUI di Tegal, Jawa Tengah.

Biasanya permintaan menfatwakan sesuatu bisa muncul dari publik, kemudian MUI akan mengagendakan untuk dibahas. Harus terlebih dahulu ada upaya mendalami pengkajian, disampaikan ke komisi agar rancangan kesimpulan mengenai fatwa bisa dibahas.

Sesudah dikaji lama, tinggal dinilai MUI daerah dan beberapa pondok pesantren. Apakah masalah yang sudah ada kesimpulan sementara itu bisa disetujui atau muncul masukan lain.

Sebelumnya JK juga melarang memutar kaset mengaji AlQuran di masjid-masjid. Sejauh ini, larangan memutar kaset mengaji sudah dirumuskan di Dewan Masjid.

JK menganggap kaset pengajian yang diputar pengeras suara masjid-masjid tergolong polusi udara. Ketika singgah di kampung halamannya, Sulawesi Selatan JK sempat dibangunkan suara pengajian yang keras dari beberapa masjid.

Saat itu satu jam menjelang Salat Subuh. Menurutnya membangunkan seseorang bukan tepat pada jam salat dengan speaker masjid sangat mengganggu. (cnn/rol/vvc/okz)