Kasus kaos palu dan arit, Putri Indonesia 2015 angkat bicara

0
739
Foto yang diupload Anindya melalui Akun Instagram pribadinya (liputan6)
Foto yang diupload Anindya melalui Akun Instagram pribadinya (liputan6)
Foto yang diupload Anindya melalui Akun Instagram pribadinya (liputan6)

MBNews, Jakarta – Kasus kaos palu dan arit Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri yang sempat menghebohkan netizen beberapa hari terakhir membuat wanita asal Jawa Tengah itu angkat bicara. Kaos yang dikenakannya ketika di Vietnam tahun 2013  Dalam akun Instagram miliknya tersebut, Anin mengunggah foto sedang memakai kaus berlambang palu dan arit yang identik dengan partai terlarang, Partai Komunis Indonesia (PKI). Diakuinya ketika mendapatkan baju itu, ia sedang mengikuti organisasi Presiden AIESEC Local Committe sebagai delegasi Indonesia. Ketika itu, ada sesi tukar kaus berlambang kenegaraan, salah satunya dari Vietnam.
“Aku mau klarifikasi fotoku menggunakan baju palu arit pada 2013. Sebelumnya aku ikut organisasi president AIESEC Local Committee, selama kegiatan itu aku sering bertukar t-shirt dengan 130 negara lainnya. Aku berikan kaus lambang garuda, mereka kasih masing-masing lambang negara,” kata Anindya Kusuma Putri

“Termasuk dari Vietnam dengan kaus palu aritnya, aku kasih baju batik atau garuda. Di situ nggak cuma kaus dari Vietnam saja, ada baju yang aku pakai dari Amerika juga,” lanjutnya.

Dirinya tak menyangka jika kaus palu arit yang diunggahnya menimbulkan kontroversi usai terpilih sebagai Puteri Indonesia. Makanya Anin merasa perlu untuk melakukan klarifikasi supaya masyarakat tidak salah paham menilai foto tersebut.

“Yang pasti kaget. Ini sebagai ujian pertama aku sebagai Puteri Indonesia 2015. Tentunya aku harus memberikan contoh yang baik. Masyarakat yang bertanggapan negatif, mungkin juga karena captionnya pendek,” tutur cewek yang hobi basket dan badminton itu.

Anindya Kusuma Putri menuturkan alasannya menggunakan kaus tersebut hanya untuk menghargai pemberian sahabatnya, bukan sebagai bentuk dukungan terhadap PKI. Apalagi, masyarakat Indonesia punya rasa traumatis sendiri dengan partai yang melakukan pemberontakan besar-besaran pada 1965 tersebut.

“Aku mau menunjukan rasa saling menghargai, aku pun sering berkomunikasi sama mereka (teman-teman luar negeri). Aku harus menghormati mereka, tapi jiwa aku tetap Indonesia. Aku menggunakan kaus itu untuk menghormati teman-teman saja,” tandas Anindya Kusuma Putri. (liputan6/hfa)