Dampak Negative Demam Batu Akik, Benda Bersejarah Dirusak !!

0
607
Batu Nisan Peninggalan Perang Dunia Kedua, Harus Dirusak Oleh Tangan Tangan Jahil Untuk Diambil Sebagian Batunya dan Dijadikan Batu Cincin. (nur)
Batu Nisan Peninggalan Perang Dunia Kedua, Harus Dirusak Oleh Tangan Tangan Jahil Untuk Diambil Sebagian Batunya dan Dijadikan Batu Cincin. (nur)
Batu Nisan Peninggalan Perang Dunia Kedua, Disayangkan Harus Dirusak Oleh Tangan Tangan Jahil Untuk Diambil Sebagian Batunya dan Dijadikan Batu Cincin. (nur)

MBNews, Tarakan – Demam batu akik yang melanda Indonesia ternyata memiliki dampak negative terhadap keberadaan benda bersejarah. Sepertihalnya di Tarakan salah satu peninggalan benda bersejarah perang dunia kedua, yakni batu nisan warga Negara Belanda yang tersimpan di Museum Rumah Bundar, harus dirusak oleh tangan jahil dengan mengambil sebagian batu nisan tersebut untuk dijadikan batu cincin.

Kepala Dinas Kebudayaan Priwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Tarakan Hamid Amren,S.E., mengatakan, ada laporan yang diterima oleh dirinya batu nisan warga belanda peninggalan perang dunia kedua yang berada dimuseum rumah budar, dirusak oleh oknum masyarakat.

“Saya dapat laporan, bahwa bagian dari batu nisan telah dirusak oleh oknum masyarakat, apalagi saat ini lagi demam batu akik, tidak menutup kemungkinan rusaknya batu nisan jenis marmer tersebut berhubungan batu akik.” Ungkap Hamid Amren kepada merahbirunews.com, Selasa (21/04/2015).

Dengan melihat kejadian ini, tidak menutup kemungkinan menurut Hamid Amren, benda cagar budaya peninggalan perang dunia kedua seperti bunker beserta meriam pertahanan sangat rawan dirusak untuk diambil batunya. Sebab, bunker yang dibangun pada zaman penjajahan tersebut menggunakan batu pilihan dengan kualitas terbaik.

“Bunker berserta meriam rawan dicongkel oleh oknum warga yang gemar batu akik, sebab batu bunker merupakan batu pilihan dan jikapun dicongkel atau dirusak hanya mengambil batunya saja.” Katanya.

Dilain sisi, Abdul Salam Kepala Seksi Sejarah Purbakala Disbudparpora Tarakan membenarkan adanya perusakan bagian batu nisan warga Belanda yang telah meninggal sejak tahun 1928. Ia membeberkan sebelum musim batu akik nisan tersebut tidak pernah dirusak, walaupun kondisi nisan tidak dalam keadaan utuh. Namun setelah demam batu akik, nisan yang awalnya diletakan dibagian depan musem dan saat ini dipindah kebagian belakang rumah bundar, terlihat ada bagian yang dirusak pada nisan tersebut.

“Jauh sebelum ini kita letakan nisan didepan dengan kondisi  terbuka tidak ada yang merusaknya, tapi sekarang diletakan dibagian belakang museum, malah dirusak dan diambil sedikit batunya.” Jelas Abdul Salam.

Ketika ditanya apakah pelaku perusakan batu nisan tersebut telah diketahui ? Abdul Salam belum berani memastikan siapa yang mengambil sebagian batu nisan tersebut, namun atas kejadian ini pihak Disbudparpora meningkatkan penjagaan di rumah bundar, khusunya untuk menjaga batu nisan peninggalan perang dunia kedua.

“Kita akan meningkatkan pengawasan dan pengamanan di rumah bundar, termasuk di bunker bunker yang rawan dirusak selama demam batu akik.” Tuntasnya.

Selain itu Disbudparpora Tarakan meminta dengan fenomea demam batu akik, masyarakat Tarakan tidak merusak benda bersejarah serta ikut menjaga kelestarian benda bersejarah, jika nantinya ada oknum masyarakat yang tertangkap merusak benda bersejarah, maka sanksi hukum siap diberikan. Hal ini mengacu kepada Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. (nur)