Penderita HIV Bukan Musuh

0
520
Enjelin Penderita HIVAIDS (nsa)
Enjelin Penderita HIVAIDS (nsa)
Enjelin Penderita HIVAIDS (nsa)

MBNews, Tarakan – Enjelin Loisanti tak tampak malu ketika mengungkap jati dirinya sebagai pengidap HIV/AIDS positif. Ia hanya berucap, “Saya sudah siap jati diri terungkap di masyarakat. Saya ingin memberikan motivasi pada penderita supaya mereka tidak terlalu terpuruk,” katanya, Senin (1/12/2014) saat menghadiri peringatan hari HIV/Aids seduni di ruang pertemuan Dinas Kesehatan kota Tarakan.

Divonis menjadi penderita HIV/AIDS, ternyata bukan akhir segalanya bagi Enjelin. Awalnya memang stres dan terpukul, namun status hidupnya menjadi berguna di masyarakat yakni sebagai koneslor yang bergerak di bidang ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan HIV/AIDS.

Enjelin saat ini sudah divonis menderita HIV/Aids Stadium 4 sehingga dirinya bisa sewaktu-waktu mengalami drop akibat serangan virus yang mematikan ini.Bahkan belum lama ini dia pernah mengalami drop dan harus menjalani masa opname.Dan ketika menjalani opname sudah tidak terhitung berapa banyak jumlah kantong darah untuk transfusi yang dihabiskannya “Kalau saya ngedrop biasanya suka pusing,dan pusingnya bisa sampai 10 kali lipat dari pusing orang biasa,”ungkapnya.

“Dokter sempat mendiagnosa bahwa umur saya hanya sampai 2 bulan lagi,tapi saya percaya yang menentukan hidup dan mati hanyalah tuhan dan saya tidak mau putus asa,”tuturnya

Bahkan karena penyakitnya ini,berat badan Enjelin yang mulanya 54 kg sekarang hanya 37 kg.Tentu ini pukulan berat bagi enjelin.Ia tak menyangka bahwa dirinya bakal menderita penyakit paling mematikan di dunia tersebut.Tapi ada satu hal yang patut kita apresiasi dari Enjelin.Keberanian dirinya untuk membuka jati diri di masyarakat bahwa ia mengidap HIV/Aids tentunya.Tidak banyak orang yang berani bersikap sepertinya.Segala cacian dan bentuk diskrimnasi sudah tentu menjadi momoknya.

“Awal saya membuka diri hanya kepada adik saya di tahun 2008 baru setelah itu baru saya beranikan diri buka diri ke yang lainnya,”Kata wanita yang akrab disapa Enjel ini.

Enjel menuturkan berbagai macam bentuk cemoohan dan diskrimansi datang silih berganti ketika dirinya membuka diri kepada lingkungan sekitar.Bahkan tindakan diskriminasi itu datang dari orang-orang yang justru paling dekat dengan dirinya.

“Kebetulan abang saya yang nomor 3 itu reaksinya sangat menyakitkan hati saya.Abang saya bilang kamu jangan cium-cium anakmu nanti bisa terinfeksi,”tuturnya menirukan perkataan yang disampaikan oleh kakak kandungnya.

Sontak ucapan ini yang membuat hati seorang Enjel menjadi hancur berantakan.Bayangkan saja ibu mana yang hatinya tidak hancur ketika mau mendekati anaknya apalagi mencium dan merangkul saja dilarang.

Kini Enjel menjalani hidup seorang diri dengan status penderita HIV/Aids.Meski demikian iya tidak pernah menyerah dengan keadaan.Iya tetap menjalaninya dengan ikhlas.Segala tindakan diskriminasi yang diterimanya juga tidak terlalu ,ia persoalkan.Karena dia hanya ingin memotivasi bagi penderita HIV lainnya agar tetap bersemangat menjalani hidup.Menurutnya menjadi seorang yang dinyatakan positif menderita HIV/aids bukan halangan untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

“Saya tetap ikhlas dan mau memotivasi orang-orang yang bernasib sama dengan saya,meskipun banyak diskrimanasi yang saya terima,”tuntasnya sembil mengusap air mata. (nsa)