Terhalang Daratan Kalimantan, Rukyatul Hilal Terkesankan Dipaksakan

0
219
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

MBNews, Tarakan – Walaupun sudah jelas pengamatan bulan untuk memastikan masuknya awal puasa tidak dapat terlihat di Kota Tarakan, namun Kementrian Agama (Kemenag) Tarakan tetap melakukan prosesi rukyatul Hilal. Bahkan pada tahun ini, kegiatan rukyatul hilal akan dilaksanakan pada selasa (16/6/2015), dengan memilih tempat di Tower Bandara Juwata Tarakan.

Kepala Kemenag Tarakan Imam Mochtar mengatakan, dipilihanya tower Bandara Juwata sebagai tempat pengamatan bulan (rukyatul hilal,red) dengan harapan bisa melihat kondisi bulan. Mengingat tower Bandara dinilai tempat yang sangat strategis dalam mengamati pergantian bulan menuju awal ramadan 1436 Hijriyah/2015 Masehi.

“Untuk rukyatul hillal kita pilih Tower Bandara Juwata sebagai tempat pengamatan bulan yang paling strategis,” ucap Imam, disela rapat persiapan dan pelaksanaan rukyatul hilal di ruang kenawai Pemkot Tarakan, Rabu (10/6/2015).

Agar prosesi pengamatan rukyatul hilal lebih afdol, pihak Kemenag mengundang beberapa pihak dari unsur Organisasi Islam seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, beberapa organisasi masyarakat dan beberapa Instasi terkait lainnya seperti Badan Meteorologi dan Klematologi (BMKG) serta Satuan Radar 225 Tarakan

“Pada pelaksanaan rukyatul hilal melibatkan semua pihak baik dari ormas islam dan lainnya, untuk peralatan pengamatan berupa teleskop menggunakan alat dari Satradar 225 Tarakan,” bebernya.

Sementara itu Ketua MUI Tarakan KH. Muhammad Anas memastikan, pelaksanaan rukyatul hilal yang dilakukan oleh Kemenang Tarakan sudah dapat di prediksi sangat sulit untuk melihat kondisi bulan, mengingat letak geografis Tarakan terhalang pengunungan yang ada di daratan Pulau Kalimantan, belum di tambah dengan adanya awal comulunibus yang selalu menghalangi pandangan mata maupun teleskop saat rukyatul hilal dilakukan.

“Jadi ada kemungkinan di Tarakan akan sulit melihat proses terjadinya Hilal,” Pungkas Anas.

Untuk diketahui, dalam menentukan awal ramadan ada dua metode yang dilakukan yakni dengan sistem Hisab, merupakan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Yang kedua dengan metode Rukyat, yakni aktivitas mengamati visibilitas hilal, berupa penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya. (nur)