10 Hari Terakhir Bulan Suci: Geliat Ibadah Dalam Bayangan Insecurity

0
121
Zulva Zannatin Aliya. Waketum Fatayat NU KTT
Zulva Zannatin Aliya. Waketum Fatayat NU KTT

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Pada bulan ini tiap amalan dan ibadah yang dilakukan akan diganjar berkali-kali lipat oleh Gusti Allah. Ibarat siklus pasang surut air sungai, bulan ini seperti musim pasang air tinggi yang di dalamnya banyak terdapat ikan dan udang untuk dipanen. Sehingga tergantung dari bagaimana kita bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk mendapatkan nikmat yang sebesar-besarnya. Tentu saja dalam diskursus Ramadhan, mencari nikmat berarti mencari berkah atas setiap nawaitu yang dilakukan. Lagi-lagi dasarnya adalah niat ya, gak usah membayangkan harus wirid ribuan kali baru mendapatkan berkah, lhawong kamu tidur di siang hari asalkan niatmu untuk menjaga dirimu dari ngomongin tetangga yang kemarin baru beli kulkas baru, itu sudah bernilai ibadah. Sampai sini sudah paham ya, bagaimana spesialnya bulan Ramadhan dari bulan-bulan yang lain.

Tapi ada yang ngerasa gak sih, kalau bulan Ramadhan tahun ini tuh cepet banget berlalu. Tiba-tiba aja udah masuk ke 10 hari terakhir. Nah, ternyata hari – hari di dalam Bulan Ramadhan juga memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi disebutkan bahwa,

“awal bulan Ramadhan adalah rahmat pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.”

Ibarat tangga pencapaian, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah puncaknya perjuangan meraih ampunan Allah sehingga terbebas dari siksa neraka dan mampu mencapai fitrah (kembali ke nol ya) yang biasa kita rayakan dengan hari raya Idul Fitri, hari raya kemenangan bagi mereka yang telah berjuang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Sebagai seorang pendosa, rasanya tak patut berbicara soal agama, pun memikirkan untuk kembali dan mendapat ampunan Allah saja biasanya kita takut, sudah merasa insecure duluan, apa iya setelah tercebur dalam lembah dosa dan nestapa, diri yang penuh hina ini masih pantas mendapatkan rahmat Tuhan? Rasa-rasanya memang tidak mungkin. Tapi itulah sebenar-benarnya bisikan setan, pikiran yang melemahkan hati dan perasaan. Padahal rahmat Allah SWT itu ada bagi siapa saja yang meminta-Nya. Sungguh, ketika kita mendatangi-Nya dengan berjalan, Dia akan menyambut kita dengan berlari. Sedalam apapun kamu jatuh, selalu ada tempat untuk bangkit dan kembali. Allah SWT menjamin itu.

Oleh karenanya, momen sepuluh hari terakhir Ramadhan ini kita maksimalkan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah merubah skema berpikir dari yang negative oriented menuju optimistic oriented. Pikiran adalah ruang besar yang berisi kumpulan pengalaman, impian, harapan, tindakan, yang bergabung menjadi sebuah konstelasi yang saling tergantung satu sama lain. Otak (brain) adalah mahakarya Tuhan yang di dalamnya mampu memproses pikiran (mind), sehingga akhirnya mempengaruhi perilaku. Dalam pendekatan Psikologi Kognitif, proses berpikir pada akhirnya akan mempengaruhi proses sikap. Istilah “kognisi” digunakan untuk menunjukkan adanya “proses mental” –menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi-  dalam diri seseorang sebelum melaksanakan tindakan. Berbeda dengan konsep perilaku “nature” dari Charles Darwin pada abad kesembilan belas yang menyatakan bahwa perilaku adalah bawaan instink biologis atau keturunan,  pendekatan kognitif meyakini bahwa sumber dari perilaku adalah adanya proses skema berpikir yang diperoleh dari lingkungan eksternal, atau “nurture”.

Meyakini bahwa banyak hal baik di sekitar kita, termasuk meyakini ampunan Allah itu ada bagi mereka yang memintanya adalah geliat hasil berpikir positif yang dapat mempengaruhi perilaku. Lihat saja, banyak pemuda-pemudi yang saat ini sedang gandrung “hijrah”, adalah bentuk nyata bahwa langkah kebaikan itu bisa dilaksanakan siapa saja, bahkan oleh pendosa sekalipun. Walau tidak sepenuhnya saya setuju dengan konsep hijrah para hijrahers, tapi keinginan untuk berpikir positif, meyakinkan diri bahwa menjadi lebih baik adalah keniscayaan bagi siapapun, adalah satu hal yang patut diapresiasi. Maka, jangan sungkan ya gaes untuk memohon ampunan-Nya. Bulan Ramadhan adalah momen terbaik untuk mendapatkan itu.

Hal kedua setelah pengalihan pikiran adalah mulai melaksanakan perintah ibadah-Nya. Amalan-amalan sunnah selain ibadah wajib yang dapat dilakukan disepuluh hari terakhir Ramadhan adalah sebagai berikut;

1 Tadarus Al-Qur’an
Tadarus Al-Qur’an

Tadarus Al-Qur’an

Sudah menjadi lumrah, sesuatu yang kita tidak kuasai maka kita jadi malas untuk melakukannya. Seringkali saya minder melihat teman-teman lain mampu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu nan indah, nyaman di telinga. Sementara saya, untuk menghabiskan satu ayat Al-Fatihah saja harus kepotong-potong karena kehabisan nafas. Belajar memang tidak mudah, mengumpulkan nawaitu untuk tetap membaca ditengah kemalasan karena ketidaklihaian adalah sesuatu yang patut diapresiasi, bahkan termasuk ibadah. Ingat nasihat Imam Syafi’I berikut kepada para pembelajar,

Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan.”

Oleh karena nya, jangan pernah berhenti belajar. Bahkan ketika kita merasa bacaan Al-Qur’an kita belepotan, tapi itu bukan alasan untuk tidak membacanya sama sekali. Mari jaga semangat, untuk tetap belajar.

2 Memperbanyak Sedekah
Memperbanyak Sedekah

Memperbanyak Sedekah

Bagi teman-teman yang sedang berumur 25 – 30 tahun saat ini mungkin sedang berada pada fase “Quarter-Life Crisis” , sebuah kondisi dimana kita gamang atas arah hidup kita. Alhasil, mungkin kita belum memiliki pekerjaan yang nyaman, bisa jadi juga kita sedang dihadapkan dengan pilihan jodoh yang sulit, atau memiliki keinginan yang tidak didukung siapapun. Sehingga menyebabkan kita berada di persimpangan jalan, rapuh, dan feeling useless. Ingin berguna bagi orang-orang, tapi tak mampu. Kondisi ini juga bukan alasan untuk kita tidak bersedekah ya gaes. Sedekah tidak harus dengan harta benda atau sumbangan uang yang banyak macamnya. Sedekah bisa dilakukan dengan bagaimana cara kita menghargai orang lain, membantu orang-orang yang membutuhkan dengan tenaga misalnya. Bahkan secara sederhana, menyapa orang dengan tersenyum adalah termasuk ibadah. Karena senyuman yang tulus mampu mengalahkan perkataan yang halus.

3 Memperbanyak Berdoa
Memperbanyak Berdoa

Memperbanyak Doa

Berkatalah yang baik, karena setiap ucapan adalah doa. Mungkin teman-teman pernah mendengar adagium ini, dan memang benar. Perbanyaklah berkata-kata baik, karena disitu berarti kita juga telah memperbanyak doa. Seringkali orang minder dengan doanya sendiri. Seolah merasa tidak layak untuk meminta sesuatu, sementara ia sendiri selalu berbuat keburukan, tak pernah menjalankan perintah Allah SWT. Cak Nun dalam ceramahnya pernah berkata bahwa kita adalah makhluk yang Allah ciptakan, ia beri akal dan seluruh panca indera sehingga menempatkan manusia sebagai makhluk sempurna. Kita adalah hasil ciptaan-Nya. Meminta kepada Sang Pencipta adalah suatu bentuk upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT. Walaupun sesungguhnya Allah SWT itu tidak jauh, ia ada dalam hati setiap umat yang meyakini-Nya. Maka jangan jadi hamba yang sombong, mendekatlah dan berdoa, sampaikan semua keluh kesahmu kepada Allah SWT. Sungguh sebaik-baiknya tempat curhat adalah antara dagu dan sajadah. Sedekat itu.

Demikian beberapa amalan yang dapat dilakukan di malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tentu saja masih banyak hal lain yang bisa dilakukan seperti memperbanyak sholat malam, berdzikir, dan beriktikaf di Masjid. Semuanya adalah ibadah yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Sebagai sesama insan yang penuh dosa, di Bulan Ramadhan ini jangan menyerah untuk mengetuk pintu taubat. Bukan menjadi sok suci, tapi jalan menuju kebaikan memang penuh terjal dan aral melintang. Lewati itu, dan keluarlah menjadi pribadi yang baru. Semoga kita masih diberikan panjang umur untuk bertemu lagi di bulan Ramadhan tahun depan.

Wassalam…