Diskursus Kritis Epistemologi (Teori Pengetahuan), Study kasus Teori Gravitasi Newton

0
1091
M.YUSRAN
M.YUSRAN
M.YUSRAN
M.YUSRAN

Diskursus Kritis Epistemologi (Teori Pengetahuan), Study kasus Teori Gravitasi Newton

Oleh :

M.YUSRAN MANTAN KETUM HMI CABANG TARAKAN

PRIODE 2009-2010

Prolog
Terdapat sebuah keraguan yang perlu mendapatkan jawaban dalam diskusi saya dengan kelompok diskusi teman-teman Kops HmI Wati (Kohati) Cabang Tarakan dalam suatu kesempatan. Berkaitan keniscayaan pengalaman dalam memahami realitas meskipun realitas tersebut terkategori realitas yang memiliki objek ontologi metafisika. Realitas yang dimaksud misalnya Teori Gaya Gravitasi yang dikemukakan Issac Newton. Menurut salah satu peserta diskusi teori tersebut hanya dapat dipahami dengan menggunakan alat epistimologi inderawi tanpa presepsi inderawi maka pengetahuan akan teori gaya gravitasi tidak akan dapat hadir dalam benak pemikiran manusia, begitulah kira-kira pendapat yang dikemukakan peserta tersebut. Setback sebagai tambahan konon Newton dalam memahami realitas gaya gravitasi bumi dimulai dari pengamatan tak sengajanya melihat buah apel yang jatuh tepat didepan Newton karena kejadian itu berulang-ulang, ia kemudian menyimpulkan terdapat hukum yang mempengaruhi jatuhnya apel tersebut agar selalu dari atas kebawah yang disebutnya gaya gravitasi.

Beberapa argumentasipun penting saya ulangi dalam tulisan ini untuk menuntaskan pertanyaan sebagai upaya menghilangkan benih kesalahan kita dalam memahami masalah tersebut. Pertama, pengetahuan inderawi yang didapatkan melalui sensasi atau presepsi indera hanyalah pengetahuan yang bersifat informasi parsial semata dan karenanya belum memiliki nilai guna praktis, akal yang kemudian melakukan penyimpulan atas informasi yang disampaikan indera tadi. Dalam contoh kasus hadirnya pengetahuan gaya gravitasi pada benak Newton sesungguhnya bukan berasal dari pengalaman atau presepsi inderawi, dalam hal ini indera hanya berperan dalam menangkap pengetahuan atas realitas yang tampak (aksiden) – tak lebih pengetahuan apel yang jatuh dari atas kebawah – namun lebih jauh dari itu yakni realitas sebab (subtansi) dibalik realitas yang tampak tersebut sepenuhnya merupakan peran akal dalam memahaminya (intiza). Kedua, Tidak hanya itu, lebih jauh lagi untuk membuktikan keniscayaan peneguhan presepsi akal atas presepsi inderawi. Bahkan pada realitas fisika sekalipun peranan sensasi indera sangatlah terbatas karena indera hanya dapat menangkap realitas yang tampak pada sebuah benda yang material untuk mengetahui apa sesungguhnya hakikat benda materi tersebut sepenuhnya pengetahuan yang didapatkan melalui presepsi akal. Misalkan realitas kertas putih pada sebuah buku tulis. Presepsi inderawi dalam hal ini hanya dapat menangkap pengetahuan pada kertas berupa warnah putihnya, teksturnya yang mungkin halus, dan suaranya yang ketika di sobek berbunyi “kresek”. Padahal tidak semua yang putih, halus, dan berbunyi kresek itu kertas! namun kenapa kita menyimpulkan bahwa realitas itu kertas? Bagaimana kita menyimpulkan benda tersebut adalah kertas? Darimanakah muncul konsep kertas pada benak kita? Tentu saja dapat mudah kita pahami bahwa yang memberikan informasi itu kertas dengan segala kegunaanya itu adalah presepsi akal. Hal ini dapat diperkuat hanya orang yang memiliki akal yang sehat sajalah dapat menggunakan kertas sebagaimana fungsinya.

Bagaimana hadirnya pengetahuan dalam benak kita?

Dalam pandangan filsuf muslim yang dikemukakan M. Baqir Shdr (1931) hadirnya pengetahuan tasawur (konsepsi) dalam benak manusia melalui dua etape (tahap). Etape tersebut dikenal sebagai Teori Intiza (Disposisi). Pertama, etape hadirnya pengetahuan primer yakni munculnya gagasan sederhana melalui presepsi inderawi, pengetahuan primer tersebut misalnya putih, harimau, pohon, es, dan lain-lain. Kedua, etapa daur penciptaan atas pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan melalui etape primer adalah hadirnya pengetahuan skunder dalam benak manusia melalui proses disposisi (intiza) presepsi akal. Pada etapa ini semua pengetahuan yang hadir dalam benak manusia tidak lagi tunduk pada indera namun didapatkan autentik melalui presepsi akal, misalkan pengetahuan tentang tinggi, rendah, Tuhan, dan lain-lain.

Perlu pengulasan kembali sesungguhnya teori intiza diatas tidak menolak peran indera dalam hadirnya pengetahuan dalam banak pikiran manusia namun mengkoreksi dengan tegas atas pandangan teori empiris seperti yang dikemukakan filsuf Inggris Jhon locke (1632-1704) dan Irlandia George Berkeley (1685-1753) serta pengikut Marxisme yang menjadikan persepsi inderawi dan pengalaman adalah satu-satunya alat epistimologi dalam memahami hadirnya dan alat penilaian suatu pengetahuan. Pandangan tersebut rancu dan nisbi karena kita semua mengetahui dengan mudah tidak semua pengetahuan yang dimiliki manusia memiliki objek ontologi fisika dan atau materi yang dapat dipahami melalui sensai indera melainkan terdapat juga sejumlah pengetahuan atau gagasan dalam benak manusia yang memiliki objek ontologis metafisika dan atau nonmateri. Misalkan bentuk-bentuk pengetahuan matematika, geometri, teologi dan pengetahuan lainnya yang hanya dapat dipahami melalui persepsi khayali maupun presepsi akal. Persepsi indera menyampaikan sejumlah pengetahuan primer yang masih bersifat informasi parsial dan sederhana, Akal-lah yang kemudian melakukan sejumlah penyusunan, menghubungkan keterkaitan dan penyimpulan atas informasi tersebut dalam bentuk pengetahua skunder. Berdasarkan itulah teori intiza juga menolak konsepsi Teori ide fitri yang menurut kaum rasionalisme di barat seperti Jerman Imanuel Kant (1724-1804) dan Perancis Rane Descartes (1596-1650) meyakini ide fitri tersebut sudah dimiliki manusia sejak ia dilahirkan atau bersifat watak bawaan (fitri) namun filsuf muslim seperti Baqir Shdr menjelaskan ide fitri itu bersifat potensi atau memerlukan sejumlah stimulan (ransangan) untuk menjadi pengetahuan aktual dalam pikiran manusia. Dalam hal ini kita sepakat sebagaimana pendapat kaum empiris yang meyakini sensasi indera sebagai sumber pengetahuan namun hanya pada pengetahuan primer dan sederhana. Kita pula dapat menyimpulkan manusia memiliki pengetahuan yang berakar dari ide fitri sebagaimana yang diperkenalkan kaum rasional di barat seperti telah disinggung diatas namun sebagai koreksi ide fitri itu bersifat potensial dan itu artinya manusia belum memiliki pengetahuan sedikitpun sebelum sensasi inderanya aktif dan terlebih pengetahuan skunder.

Bagaimana upaya Akal dalam penyimpulan sejumlah gagasan atau Pengetahuan?

Sebagaimana kita telah bicangkan sejumlah argumentasi peran strategis akal dalam menarik sejumlah pengetahuan merupakan suatu keniscayaan dan lagi rasional. Kemudian yang menjadi persoalan berikutnya adalah bagaimana akal untuk mendapatkan pengetahuan tersebut?

Jawaban ilmiah atas pertanyaan diatas adalah bahwa akal dalam mendapatkan pengetahuan dengan beberapa cara yakni:

1. Perpaduan (menyusun) Upaya akal dalam mendapatkan pengetahuan baru dengan cara memadukan atau menggabungkan antara lebih dari satu pengetahuan konsepsi (tashawwur). Misalkan konsepsi gunung dan emas apabila dipadukan menjadi satu maka akal dapat memahami sebuah konsepsi gunung emas. Gunung emas dalam hal ini pengetahuan baru yang diperoleh dari persepsi khayali.

2. Abtraksi (mengosongkan – tajrid) Kerja akal untuk menghilangkan kekhasan (partikular) pada sebuah realitas pengetahuan yang kemudian melahirkan pengetahuan universal tentang realitas tersebut. Misalkan, akal kita mengkonsepsikan dua sosok manusia bernama Hasan dan Husein, kemudian menghapuskan segalah hal yang menjadi kekhasan masing-masing sosok tersebut. Upaya tersebut akan melahirkan sebuah pemahaman universal tentang manusia akibat abtraksi akal.

3. Membagi (klasifikasi) dengan memisahkan bagian kecil dari sebuah pengetahuan kedalam katagori-katagori adalah salah satu kerja akal dalam mendapatkan sebuah pengetahuan baru. Misalkan, ketika akal membayangkan sebuah pohon dan kemudian membaginya kedalam katagori sub-sub atau bagian kecil yang terdiri dari batang, daun, akar, dan seterusnya.

4. Menyimpulkan (intiza) Lahirnya sebuah pengetahuan dari sebuah pengamatan atas sebuah realitas yang memiliki hubungan sebab akibat adalah upaya penyimpulan (kongklusi) akal. Misalkan, ketika akal memahami hubungan realitas panas dengan memuainya logam maka diperolehla dalam fenomena tersebut panas sebagai sebab memuainya logam yang padat dan keras.

5. Menggeneralisasi Pemahama akal pada contoh diatas bahwa logam apabila dipanaskan akan memuai adalah upaya generalisasi (induksi) akal. Hal ini karena pengamatan atas memuainya logam jika dipanaskan hanyalah dilakukan pada sampel atau sejumlah contoh kecil jenis logam saja kemudian akal mereduksi atas hasil pengamatan partikular tersebut pada seluruh jenis logam didunia.

6. Mendalami Saat kita mengetahui bahwa Nabi Islam memerintahkan kita shalat dan memahami bahwa shalat akan kehilangan makna kecuali dengan adanya penerimaan maka kita pun sampai pada suatu kesimpulan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang shalat yaitu sempurnanya shakat dengan mengejewathnya atau hadirnya hati dalam setiap gerakan-gerakan fisikal shalat.
Penghalang hadirnya pengetahuan dalam benak

Setiap presepsi (pengetahuan) yang bersumber baik dari indera maupun akal memiliki penghalang dan syarat-syarat akan hadirnya. Dan untuk menyumpurnahkan pengetahuan yang kita miliki merupakan suatu keharusan bagi kita untuk mengenal hambatan dan syarat sempurnanya pengetahuan tersebut. Tentu sebelum penghalang dan syarat-syarat yang dimaksud belum terpenuhi maka merupakan suatu kemustahilan bagi kita untuk mendapatkan pengetahuan secara sempurna.

Adapun penghalang dan syarat-syarat tersebut pada etape presepsi indera dengan mudah kita mengetahui adalah rusaknya (cacat) pada salah satu atau lebih pancaindera yang dimiliki manusia. Hal ini menyebabkan manusia dalam dua kondisi. Pertama, terhalang dari berpengetahuan yang benar seperti rabun pada mata akan menyebabkan seseorng sulit mengetahui warna-warna dan lain-lain dengan benar. Kedua, terhalang dari mengetahui itu sendiri seperti butanya mata seseorang yang mengahalangi sama sekali manusia untuk mengenal bentuk warna-warna.

Sementara penghalang hadirnya pengetahuan yang diperoleh melalui presepsi akal membutuhkan ragaman dan rician penjelasan yang mendalam karena berkaitan dengan kejiwaan manusia seperti tema-tema pembahasan irfan:
1. Suasana hati (hawa)
2. Kecenderungan (Cinta)
3. Kekufuran
4. Berlebihan (al-israf)

Sebagaimana penghalang pengetahuan indera akan menyebabkan kepada dua kondisi maka pada pengetahuan yang diperoleh dari presepsi akal juga demikian yakni penghalang dari berpengetahuan yang benar dan terhalang dari mengetahui itu sendiri. @MYusranRSO