Kekurangan Alat dan Teknologi, BPLH Tidak Mengetahui Kualitas Kesehatan Udara

0
834
Petugas BPLH saat melakukan pengukuran kualitas udara di Kota Tarakan saat kabut asap terjadi (run)
Petugas BPLH saat melakukan pengukuran kualitas udara di Kota Tarakan saat kabut asap terjadi (run)
Petugas BPLH saat melakukan pengukuran kualitas udara di Kota Tarakan saat kabut asap terjadi dengan peralatan dan teknologi seadanya (run)

MBNews, Tarakan – Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Tarakan kekurangan alat dan teknologi untuk mengukur parameter kesehatan udara di Kota Tarakan. Alhasil pada saat kabut asap yang menerpa Tarakan, BPLH tidak bisa menyampaikan kualitas udara dari sisi indeks standar pencemaran udara (ISPU).

Kepada MBNews, Kepala BPLH Tarakan Subono Samsudi,MT Jumat (3/10/2014) mengatakan, untuk mengukur kualitas udara khususnya pada saat adanya kiriman kabut asap diperlukan 4 parameter dan sayangnya Tarakan baru memiliki 1 alat ukur.

“Untuk mengetahui secara sempurna ISPU diperlukan alat pengukur Partikular, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon, sedangkan BPLH Tarakan hanya mempunyai 1 alat yang hanya untuk mengetahui partikular yakni High Volume Sampler, sehingga hasil detail terhadap kualitas udara saat adanya kabut asap tidak bisa diketahui secara sempurna.” Jelas Subono Samsudi.

Walaupun Cuma memiliki satu alat ukur, namun Subono berkeyakinan sudah ada pencemaran udara secara tidak langsung dari asap kiriman yang melanda kota Tarakan, sehingga tetap disarankan agar masyarakat pada saat keluar rumah hendaknya menggunakan masker.

Dari hasil uji udara ambien yang sudah dilakukan oleh BPLH selama kabut asap berlangsung per 3 Oktober 2014, tepatya pada pukul 11.00 – 12.00 Wita dapat diketahui Total Suspended Particulates udara di Tarakan  berkisar 105.56 mikrogram. (RUN/HFA)