Keputusan Setelah Rapat, BPJS Kesehatan Tidak Haram

0
247
Gambar BPJS Kesehatan
Gambar BPJS Kesehatan
Gambar BPJS Kesehatan
Gambar BPJS Kesehatan

merahbirunews.com, Keputusan Setelah Rapat, BPJS Kesehatan Tidak Haram. Sebelumnya terjadi polemik di mediamasa terkait kabar bahwa MUI menetapkan bahwa BPJS Kesehatan ternyata haram / tidak sesuai syariat Islam. Lalu muncul Klarifikasi dari MUI terkait penetapan Fatwa Haram BPJS yang telah heboh di masyarakat, bahwa MUI hanya mengeluarkan rekomendasi yang berisi pandangan ulama terkait dengan layanan BPJS Kesehatan dalam acara Forum Ijtima Ulama MUI di Pondok Pesantren At-Tauhidiyah di Cikura, Tegal, Jawa Tengah, pada 8-10 Juni lalu.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyelesaikan pertemuannya dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Rapat dilakukan sekitar 2,5 jam dan dihasilkan beberapa keputusan.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani mengatakan, rapat dilakukan untuk memberikan kejelasan terhadap hukum penggunaan BPJS Kesehatan yang selama ini dikabarkan haram.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, minggu lalu di media beredar berita-berita baik cetak maupun elektronik, banyak mengangkat isu-isu BPJS Kesehatan atas keluarnya ijtima ulama MUI seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Tegal, isu yang beredar sangat luas sekali, bahkan ada kosa kata menyeramkan, ada kata-kata haram padahal tidak kita temukan di ijtima’ kata-kata tersebut,” jelas Firdaus saat konferensi pers di Gedung Merdeka, Jakarta, Selasa (4/8/2015).

Dia menjelaskan, fatwa soal haramnya BPJS Kesehatan tersebut simpang-siur di khalayak luas.

“Belum lagi banyak pihak berbicara yang kurang pas sehingga melebar. OJK tentu bersama-sama dengan pihak terkait membahas masalah ini agar bisa selesai. BPJS yang menyelenggarakan JKN sebuah program yang baik sekali dari pemerintah untuk masalah kesehatan,” terang dia.

Dari pertemuan tersebut, Firdaus menyebutkan, terdapat beberapa keputusan.

“Tadi kita cukup mendiskusikan, kita dengarkan dulu apa yang disampaikan MUI, ijtima’ itu isinya apa, kita dengarkan semuanya, pihak BPJS Kesehatan juga kita menyampaikan pandangannya, DJSN, Kemenkes, Kemenkeu juga,” ucap dia.

Dari hasil pembicaraan tersebut, berikut kesepakatannya: Pertemuan antara BPJS Kesehatan, MUI, pemerintah, OJK, DJSN sehubungan dengan ijtima’ tentang penyelenggara BPJS Kesehatan, untuk klarifikasi sebagai berikut.

Pertama, telah dicapai kesepahaman untuk pembahasan lebih lanjut ijtima’ tentang penyelenggaraan BPJS Kesehatan, kami akan membentuk tim yang terdiri dari OJK, BPJS Kesehatan, DJSN, Kemenkeu, dan MUI.

“Saya sih target minggu ini bahas tim teknis, misalnya ada keinginan masyarakat yang ingin ada unsur syariah bisa direalisasikan,” katanya.

Kedua, rapat sepaham dalam keputusan fatwa rekomendasi tentang BPJS Kesehatan tidak ada kosakata haram.

“Memang kita diminta untuk menyelesaikan prinsip syariah,” ujar dia.

Ketiga, masyarakat diminta tetap mendaftar dan melanjutkan kepesertaannya di BPJS Kesehatan dan selanjutnya perlu adanya penyempurnaan program kesehatan untuk memilih antara syariah dan tidak.

“Jadi tidak ada keragu-raguan, insya Allah cepat dalam hitungan hari bisa diselesaikan, tapi untuk menyempurnakan Peraturan Pemerintah (PP) butuh waktu, sambil nunggu waktu tetap tentunya masyarakat diminta yang belum mendaftar ya mendaftar, jadi yang sudah mendaftar tetap melanjutkan kepesertaannya jadi program pemerintah tetap berlanjut. Itu kesepakatan yang kita capai. Sudah ditandatangani ramai-ramai,” pungkasnya.(detik)