Makin Cepat Agus Subiyanto Jadi Panglima TNI, Makin Kuat Dugaan Nepotisme Jokowi

0
565
Makin Cepat Agus Subiyanto Jadi Panglima TNI, Makin Kuat Dugaan Nepotisme Jokowi

merahbirunews.com – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Agus Subiyanto ditunjuk menjadi calon tunggal Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Ia akan menggantikan Laksamana Yudo Margono yang dimaksud pensiun pada 26 November 2023 mendatang. Penunjukkan hal itu tentu mengejutkan banyak pihak.

Bagaimana tidak, Agus Subiyanto baru belaka ditetapkan sebagai KSAD pada akhir Oktober lalu. Namun, belum sepekan, ia ditunjuk untuk menjadi calon tunggal Panglima TNI menggantikan Laksmana Yudo. Hal ini lantas memunculkan adanya dugaan nepotisme dalam penunjukkan oleh Jokowi tersebut.

Ada Dugaan Nepotisme

Keputusan pencalonan Agus oleh Jokowi diduga mengandung nepotisme. Hal ini dikarenakan keduanya yang digunakan sudah sejak lama menjalin hubungan dekat. Tepatnya saat Agus menjabat sebagai Komandan Kodim 0735/Surakarta pada 2009-2011. Pada periode ini, Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo. 

Atas dasar itu, selain sarat nepotisme, pencalonan Agus juga dipandang sebagai dimensi urusan politik praktis mendekati Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Apalagi, ia baru hanya dilantik Jokowi menjadi KSAD untuk menggantikan Jenderal Dudung Abdurachman, pada Rabu (25/10/2023).

Namun, belum sepekan, Jokowi mengeluarkan keputusan yang dimaksud mengejutkan. Di mana pada Selasa (31/10/2023), ia mengumumkan pencalonan tunggal Agus Subiyanto sebagai Panglima TNI. Ia pun berdalih bahwa Agus memenuhi kriteria meskipun belum lama mengemban tugas sebagai KSAD. 

“Sudah kami sampaikan kurang lebih besar minggu yang tersebut lalu. Beliau juga (sebelumnya) Wakil KSAD, kemudian menjadi KSAD.Jadi kalau melihat jam terbangnya di area teritorial, kemudian di area adminstratif, akademis semuanya memenuhi (kriteria) semuanya, kata Jokowi dalam keterangan pers pada Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Rabu (1/11/2023).

Usai pencalonan Agus dikirim ke DPR, tahap selanjutnya adalah uji kelayakan lalu kepatutan. Ia dikabarkan akan diuji oleh Komisi I DPR pada 14 November 2023. Meski begitu, kepastian jadwalnya masih menunggu keputusan dari Badan Musyawarah (Bamus). Namun, yang dimaksud pasti sebelum 21 November.

Dugaan adanya nepotisme itu diendus Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan. Lalu, dikatakan oleh Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur yang digunakan mewakili koalisi, latar belakang hubungan dekat Jokowi lalu Agus yang digunakan menyokong dugaan tersebut.

Menurutnya, pergantian panglima kali ini dengan jelas mereduksi kebutuhan regenerasi kemudian rotasi di area tubuh TNI. Di mana di tempat dalamnya diwarnai tujuan serta motif tertentu yang mengacu pada urusan politik praktis. Hal ini dinilainya berkaitan dengan kepentingan Jokowi sekaligus memenangkan Prabowo-Gibran.

Oleh sebab itu, Isnur mengingatkan, pertimbangan pemilihan calon Panglima TNI harus benar-benar didasarkan pada kepentingan rotasi kemudian regenerasi dalam dalam tubuh TNI. Bukan malah dilihat dari kedekatan personal atau kepentingan urusan politik dikarenakan dinilai ada penyalahgunaan oleh Jokowi.

“Kami memandang nama Agus Subiyanto rentan dimensi politisnya. Usulan nama itu juga punya peluang besar disalahgunakan Presiden (Jokowi) untuk kontestasi pemilihan umum 2024,” ujar Isnur dalam keterangan resminya, Senin (6/11/2023).

Dipilih Jadi KSAD Hanya untuk Memuluskan Jalan sebagai Panglima TNI

Komisi untuk Orang Hilang lalu Korban Tindak Kekerasan (KontraS) juga memberikan kritik terhadap pengangkatan Jenderal TNI Agus Subiyanto sebagai KSAD. Menurut pandangan mereka, hal hal tersebut tampak hanya saja sekadar formalitas untuk memuluskan rencana dirinya yang dimaksud menjadi calon tunggal Panglima TNI.

“Pelantikannya sebagai KSAD nampak hanya saja ‘formalitas’ semata kemudian diimplementasikan semata-mata untuk memuluskan rencana penunjukkan Jenderal Agus sebagai calon Panglima TNI,” demikian isi dokumen milik KontraS berjudul ‘Catatan Kritis Calon Panglima TNI’, sebagaimana dikutip Suara.com, Senin (6/11/2023).

Dalam hal itu, KontraS juga mencela prestasi Agus yang mana sejauh ini belum terlihat selama beberapa hari menjabat KSAD. Oleh karenanya, merekan menganggap penunjukan Agus sebagai calon tunggal Panglima TNI patut dipertanyakan. Sebab, ia baru cuma menjadi KSAD serta belum memberi kontribusi.

“Jenderal Agus belum dapat banyak memberikan sumbangsih kemudian kontribusi, sehingga dapat dinyatakan bahwa ia belum sepenuhnya ‘teruji’ dalam mengemban jabatan sebagai KSAD,” ujar KontraS.

Kontributor : Xandra Junia Indriasti