Wakil Walikota Tarakan Naik Pitam Melihat Kondisi Pasar Gusher Yang Kumuh

0
1181
Wakil Walikota saat berinteraksi dengan petugas kebersihan pasar (run)
http://www.merahbirunews.com/wp-content/uploads/2014/08/Wakil-Walikota-Tarakan-Khaeruddin-Arif-Hidayat-Saat-berinteraksi-dengan-petugas-kebersihan-pasar-gusher-RUN
Wakil Walikota Tarakan Khaeruddin Arif Hidayat saat berinteraksi dengan petugas kebersihan pasar gusher (RUN)

MBNews, Tarakan – Akibat kurang responnya pengelola Gusher Tarakan terhadap kondisi pasar, membuat Wakil Walikota Tarakan Khaerudin Arief Hidayat naik pitam, reaksi kemarahan orang nomor 2 di Tarakan tersebut terlihat pada saat melihat langsung kondisi pasar gusher , Minggu (10/08/2014).

Kedatangan Khaerudin Arif Hidayat dipasar Gusher tepat pada pukul 10.00 Wita dan langsung mengecek kondisi pasar terbesar di Tarakan tersebut. Pengecekan yang dilakukan mulai dari persoalan kebersihan, perparkiran hingga kepada beceknya pasar akibat adanya atap yang bocor namun tidak pernah diperbaiki oleh pihak pengelola.

“Menurut Informasi dari pemerintah terdahulu, pihak pengelola gusher sudah sering dipanggil untuk membicarakan persoalan pasar yang terkesan tidak mendapatkan perhatian, namun sayangnya setiap diundang bukan pengurus yang datang, melainkan diwakilkan anak buahnya hingga seorang satpam.” Kata Khaeruddin Arif Hidayat.

Dengan lantang Arief menegaskan, tidak ada itikad baik dari pengelola gusher untuk membenahi keadaan pasar yang saat ini terlihat kumuh. Dengan nada kesal ia mengungkapkan, pedagang setiap diminta retrebusi oleh pengelola pasar gusher namun sayangnya tidak ada timbal balik untuk memperbaiki kondisi pasar tidak dilakukan oleh pengelola.

“Jika memang pengelola enggan membenahi pasar, saya akan suruh para pedagang maupun masyarakat yang masuk ke gusher tidak usah membayar parkir dan retrebusi pasar, dan akibat kekumuhan pasar gusher ini, yang menjadi penyumbang nilai terbesar gagalnya Tarakan mendapatkan Adipura , Saya mohon maaf agak keras, pihak pengelola Jangan hanya memungut uang saja, pedagang dibiarkan memperbesar space berjualan akhirnya lahan parkir pengunjung tidak ada.“ Jelasnya (RUN/HFA)